ASAL-USUL SUKU DAYAK BAKUMPAI

 ASAL-USUL SUKU DAYAK BAKUMPAI

                Gbr. Orang Bakumpai sedang mendaras hadrah di teras mesjid jami desa Makunjung                                pada sekitar awal tahun 2025 (Dokumentasi penulis)

        Dari beberapa literatur berdasarkan pendapat para ahli disebutkan bahwa Suku Dayak Bakumpai adalah termasuk sub suku Dayak Ngaju. Suku Dayak Bakumpai atau yang sering disebut Suku Bakumpai saja secara linguistik dan geneaologi berkerabat dekat dengan Suku Baraki, Barangas, Kapuas, Mandomai, Kahayan dan Mendawai. Suku-suku tersebut memiliki persamaan kosa kata hampir 75 %. Hal ini diakui pula oleh Tjilik Riwut dalam bukunya 'Maneser Panatau Tatu Hyang'. Suku Bakumpai tersebar hampir di sepanjang bantaran sungai Barito dan menyebar ke berbagai daerah seperti Tumbang Samba, juga ke Long Iram di Kalimantan Timur. Migrasi ini didorong oleh antara lain mencari penghidupan baru, perniagaan dan juga menghindari penjajahan kolonial Belanda. 

        Hampir semua orang Bakumpai bila ditanya asal-usulnya pasti menyebut berasal dari Marabahan. Namun jarang orang Bakumpai mengetahui asal-usul suku Bakumpai sebelum periode Marabahan. Penyebutan asal dari Marabahan seperti menyiratkan semacam kebanggaan terhadap keberadaan Lebo Marabahan yang dikenal sebagai salah satu bandar pusat perniagaan, pusat pengembangan agama dan juga salah satu pusat perlawanan terhadap kolonial Belanda.

        Menurut cerita lisan, asal-usul suku Bakumpai adalah sebuah tempat yang bernama Danum Mahantis (Air Menitis) yang merujuk kepada sebuah tempat yang sangat udik atau hulu. Disebutkan tentang dua orang bersaudara anak seorang kepala suku di tempat tersebut. Kedua orang bersaudara tersebut bernama Patih Bahandang Balau dan Putri Sadurung Malan. Keduanya sangat tampan dan cantik. Suatu hari, ketika sedang "bahayau"(kelayapan) ditengah ladang mengumpulkan sayur-sayuran, Patih Bahandang Balau terkesima dengan kecantikan adiknya dan dilanda asmara. Lalu ia mengutarakan perasaannya kepada adiknya, tentu saja adiknya jadi terkejut dan segera lari pulang ke rumah. Patih Bahandang Balau takut kalau-kalau adiknya menyampaikan perihal tersebut kepada orangtua mereka. Maka Patih Bahandang Balau mengancam akan membunuh adiknya kalau melaporkan kejadian antara mereka. Sejak itu adiknya jadi gundah, sementara kakaknya tetap saja memaksanya untuk menerima cintanya. Akhirnya Sadurung Malan memutuskan untuk melarikan diri saja dari rumah.

        Maka pada suatu malam, Sadurung Malan nekat melarikan diri memakai perahu dengan hanya membawa beberapa helai pakaian dan makanan seadanya. Dia lari dengan menghiliri sungai Barito. Pada waktu itu jalur sungai Barito adalah terus ke Kapuas terus ke laut Jawa. Belum ada jalur sungai yang menuju ke arah Banjarmasin, Kalimantan Selatan. Sadurung Malan merasa khawatir kalau-kalau kakaknya mengetahui pelariannya dan mengejar serta menyusulnya. Maka Sadurung Malan berbelok menuju daratan dan menyeret perahunya melewati sebuah dataran rendah yang masih digenangi air dan tanah berselang-seling. Ia menyeret perahunya sampai tiba di sungai Bahan/Negara. Lama-kelamaan tanah bekas ia menyeret perahu itu dialiri oleh air dari sungai Barito menuju sungai Bahan/Negara. Akhirnya lama-kelamaan terciptalah sebuah sungai yang makin lama-makin membesar dan dalam karena faktor gesekan air dan kemiringan tanah serta kontur tanah yang lembek sampai akhirnya menjadi sungai besar. Akhirnya sungai barito yang asalnya mengarah ke selatan berganti arah ke tenggara menuju Kalimantan Selatan dan tetap disebut sungai Barito. Sedangkan jalur sungai asal yang ke arah selatan berganti nama menjadi sungai Kapuas.

        Dan akan halnya dengan Putri Sadurung Malan, ia meneruskan pelariannya. Puluhan tahun kemudian ia kembali dan telah berkeluarga dan berketurunan. Tapi ia terkejut ketika mendapati 'tungkaran'nya tempat menurunkan perahu dulu sudah menjadi sungai besar. Maka ia dan suaminya merasa cocok tinggal di persimpangan sungai besar tersebut karena sangat kaya dengan hasil hutan dan sungai. Lambat laun berdatanganlah beberapa orang suku Dayak Ngaju dari pedalaman yang membawa hasil hutan dan ikut membuat tempat tinggal. Inilah cikal bakal lahirnya suku Dayak Bakumpai, hasil perkawinan keturunan Sadurung Malan dan suku Dayak Ngaju. Adapun sebutan 'bakumpai' itu adalah mengacu pada sebuah tempat yang banyak ditumbuhi sejenis rumput yang bernama 'kumpai' yang bernama latin Hymenachne amplexicaulis . Menurut cerita ibu saya (Nurhajiah,87 tahun, 2025), ketika dulu masa remaja mereka tinggal di Marabahan, berjalan dari rumah ke pasar itu sampai mengangkat kain sarung setengah betis melewati rumput kumpai itu yang tumbuh subur sepanjang jalan desa.

        Masa kemunculan koloni suku Bakumpai di Marabahan  dimulai pada kurun abad ke 13 Masehi dan berkembang menjadi sebuah bandar niaga. Sebelumnya bandar niaga berada di Muara Rampiu dan Muara Hulak. Namun seiring tumbuhnya Tumbang Bahan menjadi sebuah pemukiman yang ramai didukung oleh letaknya yang strategis di pertemuan dua sungai besar, maka lambat laun tumbuh menjadi bandar internasional yang lebih ramai mengalahkan bandar Muara Rampiu dan Muara Hulak didalam sungai Bahan/Negara. Kapal-kapal dagang yang berukuran besar lebih memilih singgah dan bertransaksi di bandar Marabahan dengan pedagang lokal yang datang dari dua arah sungai. Bandar Marabahan bertahan sampai perempat abad ke 16 Masehi ketika dihancurkan oleh kerajaan Kuin (Banjarmasin) dalam peperangan dengan kerajaan Daha dengan tujuan melemahkan perekonomian kerajaan Daha. Selanjutnya kerajaan Kuin membangun bandar Masih disebelah tenggara pusat kerajaan Kuin yang selanjutnya menjadi kerajaan Banjarmasin.

        Karena kontak yang intens antara penduduk Tumbang Bahan dengan peniaga dari berbagai kawasan Nusantara dan Mancanegara, maka sedikit banyak ikut mewarnai peradaban suku Bakumpai di Tumbang Bahan baik dalam hal seni budaya, agama dan lainnya. Termasuk nama tempat tersebut yang awalnya lebih kental kedayakannya dengan kata 'tumbang', digeser oleh kosa-kata 'muara' yang diadopsi dari peniaga Melayu sebagai salah satu suku bangsa yang sangat intens berinteraksi dengan suku Bakumpai. Maka bergeserlah sebutan 'Tumbang Bahan' menjadi 'Muara Bahan', dan selanjutnya menjadi 'Marabahan'. Jadi, meskipun nenek moyang suku Bakumpai adalah berasal dari suku pedalaman yaitu Dayak Ngaju, tapi proses evolusi menjadi suku Bakumpai adalah periode ketika Sadurung Malan dan keluarganya serta suku Dayak Ngaju lainnya membangun koloni di Tumbang Bahan atau Marabahan. Dan dari Marabahan ini beberapa puak Bakumpai bermigrasi ke berbagai kawasan lain di provinsi Kalimantan Selatan, Kalimantan Tengah sampai ke Kalimantan Timur mengikuti jalur sungai. 

       Gbr. Atraksi Pencak Silat Lawang Sakepeng antara seorang Bakumpai (batik merah hitam)                     dan seorang mantir adat suku Murung di Desa Makunjung tahun 2024. Suku Bakumpai dan suku            Murung berbaur sebagai penonton dan kedua suku ini hidup berdampingan (Dokumentasi Penulis)

        Cerita bermigrasinya suku Dayak Bakumpai dari Marabahan ke berbagai kawasan tersebut sangat mudah dijumpai dalam cerita lisan beberapa warga di berbagai desa yang pernah penulis telusuri. Ketika penulis sedang bekerja atau suatu kegiatan di desa-desa suku Bakumpai di beberapa tempat, penulis tertarik untuk menelusuri asal-usul mereka. Ini pernah penulis lakukan ketika berada di beberapa desa di sungai Mahakam yang ada koloni Bakumpai seperti di Long Iram, Datah Bilang, Lutan, Tumbang Ratah dan Ma'ao. Pengakuan asal-usul mereka beragam, mulai dari Marabahan, Tumpung Laung, Montallat, bahkan dari Muara Tuhup, kampung penulis sendiri, selebihnya ada yang dari Panuut, Batu Putih sampai Juking Sopan. Termasuk kakek dan datuk penulis sendiri hampir seluruhnya dari Marabahan. Bahkan ayah penulis asli lahir di Marabahan yang bersama dengan kakek dan saudara-saudara kakeknya dan kerabatnya yang lain bermigrasi secara besar-besaran ke Barito bagian hulu sejak jaman kolonial Belanda sampai membentuk koloni-koloni atau desa-desa baru yang berawal dari 'tumpung' (tempat berusaha yang dibangun rumah tinggal sederhana dari kulit kayu lalu menjadi perkampungan menetap). 

        Diantara kampung-kampung yang memiliki pola pembentukan seperti itu yang awal mulanya masih mudah dilacak dan sisa-sisa generasi pertamanya masih ada ketika penulis berusia remaja contohnya desa Bumban Tuhup, desa Makunjung, desa Dirung Serarong di kecamatan Barito Tuhup Raya, kabupaten Murung Raya, Kalimantan Tengah. Di desa Makunjung tersebutlah seorang bernama Marjunit(meninggal awal tahun 2000an) sepupu dua kali dengan kakek penulis. Dia yang pertama kali tinggal disitu berladang, menanam karet, lalu diikuti kerabatnya dari beberapa desa lain membangun tempat sementara dari bahan kulit kayu pada dekade 1950an. Lalu suku Dayak Murung dari sebelah hilir ikut bergabung dengan menetap di sebelah hilir dari koloni Marjunit. Perkampungan tersebut lalu berkembang menjadi desa Makunjung dan pada tahun 2008 menjadi ibukota kecamatan Barito Tuhup Raya. Berbeda dengan desa Bumban Tuhup yang berkembang menjadi desa berawal dari aktifitas pertambangan emas tradisional. Desa Bumban Tuhup memiliki pola yang sama dengan desa Penyang di kecamatan Permata Intan yang juga berasal dari aktifitas pertambangan emas di sungai Mahayan. Penulis masih ingat pada tahun 1985an,  Penyang hanyalah kawasan hutan yang ditinggali oleh warga penambang dengan gubuk beratap kulit kayu dan terpal, dan sebagian tinggal di rumah lanting yang juga beratap yang sama yakni kulit kayu dan terpal. Namun kini semua sudah menjadi perkampungan yang ramai dengan fasilitas seperti jalan beton dan diterangi listrik, sekolah, dan fasilitas pendukung lainnya. Dan satu hal penting, suku Bakumpai mampu hidup berdampingan dengan damai dan harmonis dan berinteraksi sosial dengan suku apapun termasuk sesama suku Dayak lain menembus batas-batas adat, budaya dan keyakinan. Mereka biasa berladang berdampingan dan bahu membahu mengerjakan ladang bersama-sama mulai menebas sampai panen.

        Demikianlah sekilas asal-usul suku Dayak Bakumpai yang diulas dari berbagai literatur buku, internet, pendapat para ahli baik dalam kegiatan seminar, dan hasil penelusuran penulis sendiri di lapangan dari beberapa tokoh. Semoga bermanfaat.

Komentar